
Pasaman Barat, Wahana Investigasi.com Edukasi keselamatan berlalu lintas, tidak cukup hanya dengan menyampaikan aturan kepada masyarakat, termasuk generasi muda. Pemahaman itu, diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, agar pengguna jalan mampu mengambil keputusan yang tepat ketika berkendara.
Seseorang yang tahu aturan berlalu lintas, belum tentu faham dengan cara atau sikap menerapkannya. Sebab, informasi tidak selalu membuat seseorang mampu bertindak sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki, kata Kasat Lantas Polres Pasaman Barat, Nanin Aprilia Fitriani di Simpang Empat, Rabu (4/11).
Kesadaran berlalu lintas, ulasnya, adalah kesadaran seseorang tentang keselamatan, berawal dari edukasi. Pertanyaannya, edukasinya seperti apa? Edukasi sekadarnya, atau yang komprehensif sampai dia mengerti?” ujar Jusri, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini.
Edukasi keselamatan, katanya, juga perlu didukung dengan aksi atau contoh nyata dari lingkungan sekitar, terutama keluarga. Orang tua, misalnya, tidak cukup hanya mengingatkan anak mengenai bahaya berkendara jika perilakunya sendiri tidak mencerminkan pesan tersebut.
“Orang tua bilang jalan raya itu berbahaya, anaknya bilang oh iya. Tapi anak mengerti enggak? Ketika dia mengantar anaknya, dia sendiri tidak pakai helm, tidak pakai sabuk pengaman.
Pesan yang disampaikan kepada masyarakat perlu sejalan dengan tindakan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Keselamatan, tidak bisa diukur hanya dari kemampuan setiap pengendara, informasi yang pernah diterima.
Seseorang mungkin sudah mendengar penjelasan atau membaca materi mengenai aturan lalu lintas. Namun, hal itu belum tentu membuatnya mampu menerapkan pengetahuan tersebut ketika menghadapi situasi di jalan.
Kesadaran itu diawali dari edukasi. Persoalannya, kalau ditanya soal edukasi, semua orang di sekolah sudah diberi tahu, tapi dia mengerti atau tidak? Mengerti itu bukan hanya mendengar atau membaca, karena membaca, mendengar, dan melakukan itu tidak linier,” ulasnya.
Yang penting, emahami dan menaati aturan berlalu lintas sangat penting bagi generasi muda (Gen Z dan milenial) demi keselamatan diri sendiri serta pengguna jalan lainnya.
Keselamatan Jiwa: Angka kecelakaan di jalan raya sering kali melibatkan usia produktif atau remaja akibat kurangnya kesadaran dan kelalaian. Cermin Budaya Bangsa: Cara seseorang membawa diri di jalan raya mencerminkan tingkat kedisiplinan, etika, dan kesadaran hukum masyarakatnya.
Menghindari Pelanggaran: Patuh pada aturan bukan sekadar takut ditilang polisi, melainkan menjadikan keselamatan sebagai kebutuhan sehari-hari.
Aturan dan Kelengkapan Utama yang Harus Dipahami
Kepemilikan dan Kelengkapan Surat: Memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) yang sesuai dengan jenis kendaraan serta membawa Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).
Alat Keselamatan: Wajib menggunakan helm berstandar SNI bagi pengendara sepeda motor, atau sabuk pengaman (seatbelt) bagi pengemudi mobil. Kelaikan Kendaraan: Memastikan spion, lampu utama, lampu sein, dan rem berfungsi dengan baik, serta menggunakan TNKB resmi.
Etika di Jalan Raya: Tidak menggunakan ponsel saat berkendara, tidak melawan arus, mematuhi batas kecepatan, dan menghormati pejalan kaki. Sepanjang pengendara mengutamakan keselamatan dan tertib berlalulintas dalam dirinya, maka kedamaian, kenyamanan dan keselamatan berlalulintas ada pada dirinya setiap saat, akhir Nanin, mengispirasi.
